AL-HIJAAMAH ( BEKAM ) part 1

Allah swt. berfirman:

“Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku.” (QS. Asy-Syu’araa`, 26: 80)

Rasulullah saw. besabda :
الشِّفَاءُ فِيْ ثَلاَثَةٍ: شَرْبَةِ عَسَلٍ وَشَرْطَةِ مِحْجَمٍ وَكَيَّةِ نَارٍ وَإِنِّيْ أَنْهَى أُمَّتِيْ عَنْ الْكَيِّ
“Kesembuhan itu berada pada tiga hal, yaitu minum madu, sayatan pisau bekam dan dengan terapi besi panas (kayy). Sesungguhnya aku melarang ummatku (berobat) dengan kayy.” (HR. Bukhari).
Rasulullah saw. juga bersabda :

إِنَّ أَمْثَلَ مَا تَدَاوَيْتُمْ بِهِ الْحِجَامَةُ وَالْفَصْدُ
“Sesungguhnya metode pengobatan yang paling ideal bagi kalian adalah al-hijaamah (bekam) dan al-fashdu (venesection).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ma’rifah al-Hijaamah
Al-Hijaamah berasal dari bahasa Arab yang berarti “menghisap”. Namun jika dikatakan sebagai sebuah istilah, hijaamah senantiasa disandingkan dengan kata syurthatu (syurthatu mihjam) yang berarti torehan pisau atau sayatan berdarah. Di beberapa tempat, hijaamah memiliki beberapa istilah lain, seperti bekam (melayu), nge-kop (Indonesia), Cantuk/Catut (Jawa/Sunda), dan lain sebagainya. Namun, semua istilah tersebut merujuk pada satu pengertian, yaitu sebuah metode pengobatan yang dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor atau dari dalam tubuh. Dalam istilah medis, apa yang disebut dengan darah kotor lebih dikenal dengan istilah ‘darah statis’. Yaitu darah yang tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya. Hal tersebut bisa disebabkan oleh kerusakan sel darah di dalamnya, baik sel darah putih maupun sel darah merah. Darah statis, jika dibiarkan akan mengendap di bawah pembuluh kapiler dan menghalangi laju darah normal (darah dinamis) yang pada akhirnya menghambat proses metabolisme di dalam tubuh secara keseluruhan. Pada darah statis biasanya terdapat tumpukan toksin yang berbahaya bagi tubuh. Penumpukkan darah statis di dalam tubuh juga mengundang bakteri dan pathogen lainnya. Saat kita memahami hal tersebut, kita menjadi lebih faham mengapa al-hijaamah menjadi begitu penting.

Sejarah al-Hijaamah
Sebelum dilegalkan menjadi bagian dari sunnah Rasulullah, metode hijaamah telah dikenal di beberapa tempat sebelumnya. Menurut Imam Asy-Syuyuthi, metode ini berasal dari kota Isfahan, Persia (sekarang Iran), sejak awal peradaban Sumeria berdiri. Di wilayah Arab, metode ini berkembang dengan alatnya menggunakan tanduk. Sedangkan di China, metode ini juga berkembang dengan menggunakan alat mangkuk atau cawan kaca.
Kemudian Allah swt. memilih metode ini sebagai metode yang terbaik bagi ummat muslim. Diriwayatkan dalam Sunan Ibnu Majah dari Katsir ibn Salim, bahwa ia berkata, “Aku pernah mendengar Anas ibn Malik ra., berkata: Rasulullah saw. pernah bersabda, “Setiap kali aku melewati sekelompok malaikat pada malam Isra’, pasti mereka berkata: “Hai, Muhammad, perintahkan ummatmu untuk berbekam”.
Sementara itu, Imam Turmudzi dalam Jami’-nya, sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah, dari Ibn ‘Abbas dengan makna senada bahwa beliau saw. bersabda, ”Hendaknya kalian menggunakan al-hijaamah, hai ummat Muhammad.” Maka, jadilah al-hijaamah sebagai pengobatan yang dipilih oleh Rasulullah saw. untuk ummatnya berdasarkan petunjuk dari ‘Kerajaan Langit’ melalui para malaikat di malam Isra’. Dalam riwayat yang lain, dari Ibnu ‘Abbas, sesungguhnya setiap kali Rasulullah melewati sekelompok Malaikat pada waktu mi’raj, setiap itu pula mereka berkata, “Hendaknya engkau membiasakan diri melakukan al-hijaamah.”
Sabdanya pula: “Jibril memberitahu padaku bahwa hijaamah merupakan pengobatan paling bermanfaat bagi manusia”. Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa tiada pengobatan yang hasilnya lebih baik dari hijaamah, karena hijaamah merupakan metode pengobatan yang langsung mendapatkan “SK” dari Sang Pemilik Kesembuhan. Maka, apakah kita meragukannya..?

Fadha’ilu al-Hijaamah
Berdasarkan kajian kita terhadap beberapa hadits Rasulullah saw., kita dapatkan bahwa al-Hijaamah memiliki beberapa keutamaan di antaranya.
1) Mengeluarkan darah kotor, meringankan otot kaku, dan mempertajam pandangan mata orang yang dibekamnya. Dari Ibnu ‘Abbas, Nabi saw. bersabda: “Orang yang paling baik adalah seorang tukang bekam, karena ia mengeluarkan darah (kotor), meringankan tubuh (otot kaku), dan mempertajam pandangan mata orang yang dibekamnya.”
2) Menyembuhkan berbagai macam penyakit dengan izin Allah ta’ala. Rasulullah saw. bersabda: “Berbekam pada al-kahiil dapat menyembuhkan 72 macam penyakit.”
3) Menghilangkan pusing atau sakit kepala. “Rasulullah pernah dibekam di bagian kepala untuk menghilangkan pusing-pusing”.
4) Rasulullah berbekam ‘alaa warik (di bagian pinggang) karena penyakit pegal-pegal yang dideritanya.
5) Dari Abdullah bin ‘Umar, Rasulullah saw. bersabda: “Berbekam itu bisa menambah daya tahan tubuh, dan bisa menambah kemampuan berfikir.”
6) Bernilai ibadah saat kita melaksanakannya, karena berbekam merupakan sunnah Rasulullah saw.. Dr. Yusuf Al-Qaradhawi, mengutip pernyataan Imam al-Ghazali, dalam Fatwa-Fatwa Kontemporer menyebutkan, “Hijaamah adalah termasuk fardhu kifayah. Jika pada suatu wilayah tidak ada seorangpun yang mempelajarinya, maka seluruh penduduknya akan berdosa. Namun jika ada salah seorang yang melaksanakannya serta memadai, maka gugurlah kewajiban dari yang lain. Menurut saya, sebuah wilayah kadang membutuhkan lebih dari seorang. Tapi yang terpenting adalah adanya jumlah yang mencukupi sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan.”

Jenis-Jenis al-Hijaamah
Dalam praktiknya di masyarakat, kita seringkali mendengar bahwa bekam (al-hijaamah) terbagi dalam dua jenis, bekam kering (hijaamah jaaffah) dan bekam basah (hijaamah rathbah). Namun, Aiman ibn ‘Abdu `l Fatah dalam Keajaiban Thibbun Nabawi membantah hal tersebut. Ia menyatakan bahwa dalam sudut pandang syari’at, yang dimaksudkan al-hijaamah dalam istilah syari’at adalah ‘bekam basah’ (hijaamah rathbah) yang dimaksud pada masa kini. Jika kita merujuk pada pengertian di awal pun sebenarnya sudah sangat jelas bahwa yang dimaksud dengan hijaamah adalah sebuah metode pengobatan yang dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh. Sedangkan praktik yang disebut dengan ‘bekam kering’ sebenarnya tidak bisa dikatakan sebagai praktik al-hijaamah karena tidak ada proses pengeluaran darah kotor. Konsekwensinya, bekam kering tidak memiliki keutamaan sebagaimana bekam basah (al-hijaamah).
Hal tersebut juga diperkuat oleh hadits hijaamah yang menyandingkan kata ‘hijaamah’ dengan kata syurthatu (sayatan), “syurthatu mihjam” (sayatan pisau bekam). Artinya, praktik hijaamah yang benar senantiasa dilakukan dengan mengambil darah, dengan menyayat atau melukai tubuh terlebih dahulu tentunya.
Adapun dua jenis ‘bekam kering’ (bekam tarik dan bekam luncur) pada zaman Nabi saw juga sempat dilakukan, namun praktik tersebut tidak disebut sebagai hijaamah, melainkan ku’us hawa (gelas udara) atau dalam bahasa medis modern dikenal dengan istilah cupping.
1. Ku’us Hawa
Ku’us hawa merupakan metode cupping yang dilakukan dengan tidak mengeluarkan darah. Metode ini digunakan jika pasien memang tidak memenuhi syarat-syarat untuk dilakukan hijaamah. Efek dari ku’us hawa tentu saja tidak sebaik hijaamah, karena ia hanya mengeluarkan angin dari dalam tubuh. Dalam pandangan herbalis, proses seperti ini disebut dengan karminasi. Sedangkan proses detoksifikasi yang menjadi ciri utama hijaamah tidak terjadi. Ku’us hawa sendiri terdiri atas dua variasi teknik, sliding cupping (kop luncur) dan flash cupping (kop tarik).

2. Hijaamah
Hijaamah merupakan metode cupping dengan mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh. Cara melakukannya adalah dengan melakukan Ku’us Hawa terlebih dahulu, setelah 5-10 menit lepas cup bekam dan lukai bagian tubuh yang dibekam tersebut (bisa dengan lancet atau pisau bedah), setelah itu pasang kembali cup pada bagian tubuh yang telah dilukai. Tahan hingga tubuh tidak mengeluarkan darah lagi. Setelah itu cup dilepas, dan segera bersihkan dengan alcohol (70 %) untuk membunuh bakteri.

Iklan

About brasanda

Ceritakan segala sesuatu tentang Khalid, aku pasti tertarik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: