Al HIJAAMAH ( BEKAM ) Part 2

Beberapa Hal tentang Pembekaman

1. Waktu berbekam

Imam Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah mengutip Ibn Sina, bahwa waktu terbaik dalam berbekam adalah siang hari, di antara waktu Dzuhr dan ‘Ashr, karena pada waktu ini darah sedang meluap mendekati bagian kulit terluar, sehingga proses pembekaman dapat maksimal. Selain itu, Rasulullah saw. pernah bersabda, “Barangsiapa berbekam pada tanggal 17, 19, atau 21, maka itu akan menjadi obat dari segala macam penyakit.

Beberapa riwayat menyebutkan hari-hari yang tidak baik untuk berbekam. Sebuah hadits menyebutkan hari Rabu dan Sabtu. Ada juga yang menyebutkan hari Jum’at. Hadits lain menyebutkan Kamis, Jumat, Sabtu, dan Ahad. Sedangkan dari Riwayat Abu Dawud, Rasulullah melarang berbekam pada hari Selasa. Namun, Imam Ahmad ibn Hanbal menghukumi makruh berbekam pada hari Rabu dan Sabtu. Sedangkan Imam Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah berkata bahwa siapapun dapat berbekam saat dibutuhkan. Pemilihan waktu tersebut dilakukan sebagai tindakan preventif dan berjaga-jaga saja. Adapun dalam melakukan terapi, dapat dilakukan kapan saja. Juga tidak ada larangan berbekam pada waktu berpuasa, hal ini berdasar atas riwayat Ibn ‘Abbas.

Sedangkan berbekam pada malam hari tidak disukai oleh Imam Ibn al-Qayyim dan Ibn Sina, karena dikhawatirkan udara yang dingin justru menimbulkan ketidakstabilan suhu dan angin pada tubuh pasien. Begitupun berbekam dalam keadaan perut yang kenyang. Hal tersebut dapat mengakibatkan penyumbatan darah.

Walaupun demikian, kita tidak perlu terpaku pada waktu-waktu tertentu karena sesungguhnya Rasulullah saw. berbekam saat beliau sakit. Beliau berbekam pada waktu ihram saat terserang syaqiqah (migrain). Beliau juga segera berbekam setelah memakan kambing beracun di Khaibar. Begitupun saat terjatuh dari atas kuda, beliau saw. langsung berbekam di atas punggungnya. Beliau saw. tidak menunggu-nunggu waktu tertentu untuk berobat, dan inilah yang paling kuat, walaupun berbekam pada waktu-waktu tertentu memang memiliki faedah yang lebih baik jika kita melihat hasil kajian medis.

Ketika hendak berbekam ada baiknya mandi terlebih dahulu dengan menggunakan air hangat karena setelah berbekan tidak dianjurkan untuk mandi kecuali setelah 2-3 jam. Jika tekanan darah cukup rendah, bisa dilakukan langkah preventif dengan terlebih dahulu meminum madu atau herbal lainnya. Namun, bila hajjam (orang yang melakukan pembekaman) khawatir akan terjadi apa-apa pada pasien, maka melakukan ku’us hawa merupakan pilihan bijak.

2. Siapa yang tidak boleh berbekam..?

Abu Salma dalam blognya (www.abusalma.wordpress.com/2007/03/01/panduan-singkat-tentang-bekam/.html) serta sebagaimana yang dijelaskan oleh Pn. Hjh. Siti Jawiyah dalam Al-Hijaamah Tingkat Dasar bahwa ada beberapa hal yang patut diperhatikan dalam berbekam, di antaranya .

1) Pasien yang menderita hepatitis A, B, dan C atau penderita HIV/AIDS harus menggunakan alat sendiri untuk mencegah penularan penyakit.

2) Tidak membekam orang yang fisiknya sangat lemah atau orang yang kelelahan (overfatigue).

3) Tidak membekam orang yang menderita penyakit kulit merata atau menderita alergi kulit yang parah seperti ulserasi dan edema.

4) Tidak membekam orang yang sudah jompo yang lemah fisiknya dan anak-anak yang tubuhnya lemah atau di bawah 3 tahun.

5) Penderita leukimia (kanker darah) tidak dianjurkan untuk di bekam.

6) Penderita hepatitis yang parah, TBC aktif, hemofilia, malignant anemia, trombositopenia dan penyakit lainnya yang parah tidak dianjurkan dibekam kecuali kepada juru bekam yang ahli dan berpengalaman.

7) Tidak membekam pada kondisi: perut kenyang, kehausan, kelaparan, kelelahan, setelah beraktivitas berat, tubuh lemah dan tubuh demam (kedinginan). Setelah bekam pun tidak baik untuk langsung makan, melainkan hanya minum yang manis-manis semisal madu atau selainnya.

8) Tidak membekam wanita hamil pada usia kehamilan 3 bulan pertama (trimester awal).

9) Tidak membekam langsung pada daerah yang luka, urat sendi robek, patah tulang, varises, tumor.

10) Tidak membekam wanita yang sedang haidh dan nifas.

11) Tidak membekam daerah perut terlalu keras.

12) Tidak membekam pasien yang mengonsumsi obat pelancar dan pengencer darah semisal mengkudu, omega 3, dan sebagainya.

13) Tidak dianjurkan melakukan pembekaman kepada orang yang menderita klep jantung, kecuali di bawah pengawasan dokter atau ahli bekam yang berpengalaman.

14) Tidak melakukan bekam langsung setelah mandi, terutama setelah mandi dengan air dingin. Tidak dianjurkan langsung mandi setelah bekam, melainkan setelah 2 jam. Dianjurkan mandi dengan air hangat.

15) Tidak melakukan bekam pada orang yang baru memberikan donor darah atau orang yang baru kecelakaan sehingga darahnya berkurang.

16) Tidak membekam pasien diabetes (gula darah di atas 280) kecuali oleh orang yang ahli.

17) Tidak membekam di area terbuka atau tempat yang dingin. Lebih baik melakukan bekam di ruang yang hangat atau bersuhu normal ruangan.

18) Tidak membekam pada kulit-kulit yang berkudis, kadas, eksim, edema, tumor kulit lokal, dan penyakit kulit lainnya.

19) Dilarang membekam area berikut :

a) Lubang alamiah tubuh : mata, hidung, telinga, mulut, kemaluan, anus, puting susu.

b) Daerah sistem nodus limfa yang berfungsi sebagai penghasil antibodi, yaitu di submaksilari, korvikal, sudmalaonkular, aksilari, bagian detak jantung, nodus inguinalglimfa.

c) Daerah yang dekat dengan pembuluh besar (big vessels).

3. Pada bagian tubuh mana Rasulullah saw. berbekam..?

Jika kita mengkaji hadits-hadits Nabi saw. yang berkaitan dengan hijaamah, maka kita akan dapatkan bahwa titik bekam Rasulullah saw. adalah.

1) Al-Akhda’iin, yaitu pada bagian leher di ujung tumbuhnya rambut.

2) Iltiwa (mata kaki bagian dalam).

3) Al-Kaahil, secara bahasa berarti punggung, namun Dr. Muhammad Musa ‘Alu Nashr menyebutkan yang dimaksud al-kaahil secara syari’at dalam proses hijaamah adalah bagian punuk.

4) ‘Alaa Ra’sun, merupakan titik paling atas pada kepala.

5) Umu Mughits (tengkorak bagian belakang).

6) Al-Katifayn, berarti dua punggung, yaitu bagian punggung atas dekat lengan.

7) ‘Alaa Warik, yaitu pada pinggang.

8) ‘Alaa Dzhahril Qadami (betis). Sekitar dua sampai tiga jari orang dewasa dari lipatan kaki.

9) Pelipis dan Dagu.

4. Halalkah rizqi dari berbekam..?

Rasulullah saw. pernah dibekam oleh Abu Thaybah dan Rasulullah saw. memberinya dua sha’ gandum, lalu Rasulullah saw. memberitahukan keluarganya bahwa mereka membebaskan zakatnya. Rasulullah saw. juga bersabda, “Orang yang paling baik adalah seorang tukang bekam, karena ia mengeluarkan darah (kotor), meringankan tubuh (otot kaku), dan mempertajam pandangan mata orang yang dibekamnya.”

Dari hadits-hadits tersebut, maka para ‘ulama bersepakat, “mubah hukumnya bagi seorang al-hajjam (tukang bekam) menerima upah dari pasien.” Sedangkan sebagian ‘ulama menghukumi makruh seorang hajjam yang memasang tarif. Hal ini dikhawatirkan ada pasien yang kritis namun tidak bisa berbekam lantaran ia tidak bisa membayar sesuai dengan tarif. Jika ada seorang hajjam yang berperilaku seperti ini, maka sesungguhnya ia telah keluar dari sunnah.

Tsaqafiyyah al-‘Aam Al-Hajjam

Seorang al-hajjam merupakan seorang dokter yang wajib hukumnya mengetahui dan senantiasa menggali ilmu medis untuk menjadi seorang ahli. Karena seorang dokter bertanggungjawab terhadap kondisi pasiennya. Maka, setidaknya ada beberapa pengetahuan yang wajib dimiliki oleh seorang hajjam, di antaranya:

• Memahami Anatomi dan Fisiologi

• Memahami ilmu penyakit (pathology), termasuk tahap penyakit (akut, sub akut, kronik, dan degeneratif)

• Memahami Product Knowledge dan fungsi alamiah obat-obatan herbal

• Mengetahui istilah-istilah medis dan juga obat-obatan farmasi modern

• Mahir mendiagnosis penyakit dengan kaidah Naturotherapi: Palpasi, Sign of Hands, Iridology, Kiropraktik, Refleksiologi, dll.

• Mampu menggunakan peralatan medis modern.

“Barangsiapa mengobati dan ia tidak pernah diketahui sebelum ini sebagai orang yang mengetahui ilmu pengobatan, maka ia akan dimintai pertanggungjawaban.” (HR. Abu Daud, Nasa’i, dan Ibnu Majah)

Iklan

About brasanda

Ceritakan segala sesuatu tentang Khalid, aku pasti tertarik

2 responses to “Al HIJAAMAH ( BEKAM ) Part 2”

  1. helmi says :

    Salam,

    Singgah menziarah

  2. totok says :

    izin copas akh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: