RUKUN AL-‘AMAL

 

Beramal-lah kalian, maka Allah dan rasul-Nya serta orang beriman akan melihat amal kalian, dan kalian akan dikembalikan kepada Allah yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan kepada kalian apa yang telah kalian amalkan. (QS. at-Taubah: 105)

Amal shalih selalu menyertai keimanan dan sebagai bukti kebenarannya. Kedua hal tersebut merupakan penyebab datangnya kemenangan, kemantapan di muka bumi, dan kebahagiaan serta kenikmatan di akhirat. Amal da’wah ilallah, dalam rangka meneguhkan dienullah, serta untuk menegakkan Daulah Islamiyyah, adalah amal shalih yang paling mulia.

Sejak pertama kali, Imam asy-Syahid menginginkan seluruh kader Ikhwan menjadi rijaalan ‘amaliyyin (aktivis), bukan orang-orang yang hanya mahir dalam berteori dan berdebat belaka. Karenanya, beliau memotivasi para kadernya untuk senantiasa beramal secara serius, melakukan hal-hal yang berat, dan beraktivitas dalam berbagai bidang. Maka, beliau membangkitkan obsesi dan menggelorakan tekad karena waktu tidur telah habis dan setiap aktivis harus selalu beramal, tanpa kenal lelah dan bosan, hingga tiada tempat bagi orang-orang yang malas dan berpangku tangan dalam barisan da’wah ini.

Imam asy-Syahid menjelaskan nilai amal, di mana ia menyatakannya sebagai buah dari ilmu dan keikhlashan. Beliau berkata tentang rukun al-‘Amal. “Yang saya maksud dengan amal (aktivitas) adalah bahwa ia merupakan buah dari ilmu dan keikhlashan.” Sebab ilmu tetap akan menjadi cacat dan sangat dangkal bila tidak dapat mendorong pemiliknya untuk melakukan amal yang positif dan konstruktif, sebagaimana niat yang baik tidak cukup untuk mencapai tujuan yang diinginkan bila tidak disertai upaya yang serius dan amal yang sungguh-sungguh untuk mewujudkan tujuan tersebut. Ilmu dan keikhlashan yang tidak disertai amal nyata ibarat pohon tak berbuah.

Imam asy-Syahid sangat memperhatikan masalah amal. Karena itu, beliau menjadikannya salah satu dari sepuluh rukun bai’at, bahkan saat berbicara mengenai perangkat umum Jama’ah Ikhwan, beliau mengatakan, “Perangkat umum kita adalah iman yang mendalam, takwin yang cermat, dan ‘amal ul-mutawashil (amal yang berkesinambungan). (Risalah Baiyna al-Ams wa al-Yauwm)

Dalam kesempatan yang lain, tatkala menyebutkan karakteristik da’wah Jama’ah Ikhwan, beliau mengatakan, “Mengutamakan aspek kerja nyata daripada propaganda dan publikasi, karena khawatir jika kemudian kinerja Ikhwan tersusupi oleh kotoran riya’ yang dapat merusak dan menghancurkannya.” Serta beliau menegaskan kedudukan amal dengan mengatakan,

“Mudah bagi banyak orang untuk mengkhayal. Akan tetapi, tidak semua khayalan yang terlintas dalam pikiran seorang dapat difahami lewat kata-kata dan lisan. Banyak orang mampu berkata-kata, namun sedikit dari mereka yang mampu memikul beban-beban jihad dan amal yang melelahkan. Dan, para mujahid, kader pilihan dari kalangan para pendukung yang jumlahnya sangat sedikit itu terkadang salah jalan dan tidak mencapai sasaran, bila tidak mendapatkan pertolongan dan bimbingan dari Allah. Kisah Thalut adalah bukti nyata dari apa yang telah saya katakan.

Oleh karena itu, persiapkanlah jiwa kalian dengan memberikan tarbiyah yang benar dan pengujian yang teliti. Ujilah ia dengan amal, yaitu amal yang berat dan tidak disukainya, serta sapihlah ia dari syahwatnya, kebiasaannya (yang buruk, peny.), dan tradisinya (yang jahiliyah, peny.).” (Risalah Mu’tamar  Khamis)

Setelah itu, Imam asy-Syahid menjelaskan urutan-urutan amal yang harus dilakukan oleh kader yang tulus. Beliau menjelaskan,

Adapun tingkatan amal yang dituntut dari al-Akh yang tulus adalah:

  1. Perbaikan diri sendiri, sehingga ia menjadi orang yang:
    1. Kuat Fisiknya,

Hal ini dikarenakan mu’min yang kuat lebih dicintai oleh Allah swt. dibandingkan dengan mu’min yang lemah. Maka, di antara taujih Imam asy-Syahid adalah yang tertuang pada kewajiban ketiga dalam BAB Waajibah al-Akh al-‘Amali, kewajiban keempat, kewajiban kelima, kewajiban kedua puluh tujuh, kewajiban ketiga puluh tiga, dan kewajiban ketiga puluh lima.

Dari sini, beberapa sarana aplikatif yang bisa dilakukan di antaranya adalah:

ü  Mengantisipasi penyakit dengan melakukan general check-up; segera memeriksakan diri ke dokter jika merasa sakit; melaksanakan suntikan imunisasi; tidak berlebihan dalam mengonsumsi obat-obatan kimia, kecuali terpaksa; mengenali P3K.

ü  Mengikuti nasihat Islam dalam makan dan minum; tidak berlebihan, tidak makan sebelum lapar, berhenti makan sebelum kenyang, membaca adab-adab makan dalam kitab-kitab salafush-Shalih, membiasakan sarapan, membiasakan diri shiyam sunnah.

ü  Mengikuti nasihat Islam mengenai kesehatan, yaitu dengan tidak mengonsumsi kopi atau teh secara berlebihan, membiasakan siwak atau sikat gigi, selalu memperhatikan kebersihan badan, pakaian, dan tempat tinggal, mengatur syahwat kemaluan, tidak begadang ba’da shalat Isya’, bangun lebih awal, menjaga wudhu, serta tidak tidur secara berlebihan.

ü  Melakukan olahraga rutin, khususnya adalah senam Swidia (di Indonesia, seperti senam DORA Partai Keadilan Sejahtera), serta mengikuti kaidah-kaidah kesehatan dalam gerak dan diam.

  1. Kokoh Akhlaqnya,

Akhlaqul-hasanah adalah modal dasar seorang muslim. Mengenai hal yang sangat penting bagi kehidupan muslim ini, Imam asy-Syahid mengungkapkan untaian kalimat penyejuk hati dalam kewajiban keenam, kewajiban ketujuh, kewajiban kedelapan, kewajiban kesembilan, kewajiban kesepuluh, kewajiban kesebelas, kewajiban ketiga belas, kewajiban ketujuh belas, kewajiban kedelapan belas, kewajiban ketiga puluh dua, kewajiban ketiga puluh empat, wasiat ketujuh dari sepuluh wasiat, serta materi kedua dari Hadzihi Sabiili.

Di antara akhlaq yang baik tersebut adalah: wala’, mahabbah, shidq, sabar, dermawan, membudayakan tabayyun, menjaga lisan dari kata-kata keji, jorok, dan cacian, menahan diri untuk tidak mengina, mencela, meremehkan, atau menggunjing, berbakti kepada orang tua, tidak marah, membenci kedzhaliman, tepat waktu, menjauhi debat kusir, memperbanyak puasa, terus-menerus melatih shalat malam, melatih melamakan shalat, dan lainnya.

  1. Luas Wawasannya,

Imam asy-Syahid memberikan taujih kepada kita mengenai aspek yang mendasari dalam kehidupan kita, sehingga kita membuka berbagai jendela. Jendela ilmu, membaca, dan tsaqafah. Hal tersebut terangkum dalam kewajiban keempat belas. Di antara wawasan yang harus dimiliki oleh seorang al-Akh adalah sebagaimana yang disebutkan oleh Ust. Sa’id Hawwa dalam Jundullah: Akhlaqan wa Tsaqafatan, yaitu:

ü  ilmu utsul ats-tsalatsah.

ü  ‘ulumul-Quran: nasikh-mansukh, asbab nuzul, gharibil-Quran, rasm ‘Utsmani, dan ilmu Tafsir al-Quran.

ü  ilmu as-Sunnah: memahami pembagian hadits dan asbab wurudz.

ü  ilmu Ushul Fiqh.

ü  ilmu yang bersifat teoritis dan praktis: al-‘Aqaid, akhlaq, dan fiqh.

ü  Sejarah Islam dan Kekiniannya: shirah nabawiyah, shirah Shahabat, shirah salafush-Shalih, shirah al-hadharah al-Islamiyyah, dll.

ü  Bahasa Arab.

ü  Ghadzw al-Fikr.

ü  Kajian Islam Kontemporer.

ü  Fiqh Da’wah dan Fiqh Waqi’ (wawasan ke-Ikhwan-an).

  1. Mampu Mencari Penghasilan,

Islam melarang kita dari sifat malas, serta mengharamkan duduk-duduk dan bersantai-santai. Imam asy-Syahid menjelaskannya dalam kewajiban kelima belas, kewajiban keenam belas, kewajiban ketujuh belas, kewajiban kedua puluh satu, dan materi ketiga dalam Hadzihi Sabiili. Maka, aplikasinya adalah.

ü  Setiap kader harus professional dalam spesialisasi masing-masing.

ü  Mendidik kader agar tidak meremehkan pekerjaan.

ü  Menyelenggarakan berbagai pelatihan keterampilan.

ü  Berlatih melakukan kerja-kerja sederhana.

ü  Menumbuhkan sikap enterpreuner.

  1. Salim (selamat/ murni) Aqidahnya,

Aqidah adalah fondasi dari seluruh bengunan. Darinya memancar segala hal. Apabila aqidahnya benar, maka luruslah kehidupan seorang muslim. Padahal, Imam Ibnu al-Qayyim al-Jauwziyah dalam Madarijus-Salikin  menjelaskan bahwa jalan terdekat dari dua titik adalah garis lurus. Jika kita adalah titik pertama dan Allah adalah titik kedua, maka jalan yang lurus adalah jalan terdekat bagi kita untuk “mencapai” Allah swt.

Maka dari itu, Imam asy-Syahid menjelaskan permasalahan aqidah dalam ushul-‘isyrin, yaitu dalam ushul pertama, kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam, kedelapan, kesepuluh, kesebelas, kedua belas, keempat belas, kelima belas, ketujuh belas, kedua puluh.

Hal ini memberikan konsekwensi kepada setiap kader untuk mengikuti pendapat ulama Salaf dalam hal ‘aqidah, sebagaimana yang telah disebutkan dalam Risalah al-‘Aqaid, Imam asy-Syahid mengatakan, “Kami berkeyakinan bahwa pendapat salaf, yakni diam dan menyerahkan ilmu mengenai berbagai makna kepada Allah swt., adalah selamat dan lebih layak untuk diikuti, untuk mencegah takwil dan ta’thil. Apabila anda termasuk orang yang dibahagiakan Allah dengan ketenangan iman dan disejukkan dadanya dengan embun keyakinan, maka jangan mengganti pendapat ini dengan yang lain.” Karena itu pula Imam asy-Syahid menjadikan “salafiyah” sebagai karakteristik da’wah Ikhwan. Maka, da’wah Ikhwan adalah da’wah salafiyah.

  1. Benar Ibadahnya,

Abdullah ibn. ‘Abbas saat ditanya firman Allah dalam QS. 67: 2, ahsanu ‘amala, yaitu harus memenuhi dua syarat, Ikhlash karena Allah dan ittiba’ bukan ibtida. Inilah makna dari ibadah yang benar. Dengan kata lain, ilmu sebelum ‘amal. Imam asy-Syahid menjelaskan hal ini dalam kewajiban pertama, kewajiban kedua, kewajiban kedua puluh enam, kewajiban kedua puluh tujuh, kewajiban kedua puluh delapan, kewajiban, kedua puluh sembilan, kewajiban ketiga puluh, kewajiban ketiga puluh satu, kewajiban ketiga puluh dua, wasiat pertama dari sepuluh wasiat, ushul ketiga dari ushul ‘isyrin.

Hal ini memberikan konsekwensi kepada al-Akh untuk memahami makna dari “thariqah sunniyah”, dan “haqiqah shufiyyah”. Maka, hendaklah al-Akh untuk,

ü  Mempelajari berbagai rahasia ibadah.

ü  Mengkaji fiqh sunnah.

ü  Bersemangat menunaikan ibadah sunnah dalam wudhu, shalat, shiyam, shadaqah, dll.

ü  Melaksanakan seluruh shalat di awal waktu dan berkomitmen untuk melaksanakan shalat fardhu di masjid dengan berjama’ah.

ü  Komitmen membaca wirid al-Quran harian, do’a ma’tsurat, tasbih, istighfar, dan memperbaharui iman dengan tahlil.

ü  Komitmen melaksanakan shalat witir, sunnah rawatib, dan dhuha.

ü  Komitmen berpuasa sunnah senin-kamis atau sebulan tiga kali.

ü  Ihsan dalam shalat, dll.

  1. Mujahadah Pada Dirinya,

Jihad fii sabiilillah mencakup seluruh kehidupan mu’min, dan jihad yang paling pertama adalah jihad terhadap jiwa. Siapa yang mampu melakukannya, maka ia akan mampu melaksanakan jihad-jihad lainnya. Imam asy-Syahid menguraikannya dalam kewajiban kedelapan, kewajiban ketiga puluh dua, ushul ketiga dari ushul ‘isyrin.

Komitmen kita dalam mujahadah pada jiwa di antaranya adalah dengan mengambil empat tingkatan tazkiyah, yaitu al-musyarathah (membuat komitmen), al-muraqabah (pengawasan), al-muhasabah (evaluasi), dan al-mu’atabah (kritikan) dan al-mu’aqabah (pemberian sanksi).

  1. Penuh Perhatian Terhadap Waktu,

Waktu adalah kehidupan dan segala sesuatu dapat diganti atau kembali, kecuali waktu. Memanfaatkan waktu untuk ketaatan dan hal-hal yang bermanfaat adalah perbuatan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Imam asy-Syahid berkata dalam kewajiban ketiga puluh, wasiat kedua dari sepuluh wasiat, serta wasiat kesepuluh dari sepuluh wasiat.

Dalam dinyatakan “Dua nikmat yang Kebanyakan manusia tertipu di dalamnya adalah kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari, Turmudzi, dan Ibnu Majah). Juga hadits “Manfaatkanlah lima hal sebelum lima hal: waktu luangmu sebelum waktu sibukmu, masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, hidupmu sebelum matimu, kayamu sebelum miskinmu…” (HR. Ahmad dan al-Hakim). Sebuah hikmah menyatakan “Al-waqtu kasaiyf (waktu bagaikan pedang), jika kamu tidak memotongnya, maka ia akan memotongmu.”

Maka dari itu, kita harus konsekwen untuk,

ü  Memperhatikan waktu dalam segala hal.

ü  Disiplin pada jadwal pertemuan.

ü  Membuat program pribadi: tahunan, bulanan, pekanan, harian.

ü  Menjaga waktu dari ketersia-siaan.

ü  Menyediakan waktu khusus untuk beramal dan keluarga.

ü  Mengetahui urgensi waktu dan menyadari bahwa waktu adalah kehidupan.

ü  Meyakini bahwa ajal telah dekat dan manusia akan dimintai pertanggungan jawab atas waktunya.

  1. Rapi / Teratur Urusannya,

Teratur dan cermat adalah ciri khas mu’min serta merupakan salah satu tanda keistimewaannya. Karenanya, Imam asy-Syahid menetapkan sarana-sarana yang dapat membantu kita mencapai kompetensi tersebut. Di antaranya terangkum dalam kewajiban kelima, kewajiban kedua puluh empat, dan kewajiban kedua puluh tiga. Sarana aplikatif yang bisa dilakukan di antaranya,

ü  Menyusun amal dan amanah berdasarkan skala prioritas.

ü  Membagi berbagai kewajiban berdasar atas waktu yang ada.

ü  Menertibkan dan menata tempat kerja, tempat tidur, tempat makan, dan segala hal di sekitarnya.

ü  Menyiapkan pengganti saat tidak hadir.

ü  Membudayakan konfirmasi.

ü  Jangan menunda amal hari ini ke hari esok.

ü  Jika dihadapkan pada amal yang bertumpuk, mulailah dengan hal paling disukai.

ü  Mempersiapkan pertemuan sebelum hadir di dalamnya.

  1. Bermanfaat Bagi Orang Lain.

Salah satu rambu keislaman adalah memberikan bantuan, nasihat, dan kontribusi yang tidak pernah terputus kepada seluruh makhluq-Nya. Karena itu, tidak layak terlahir ke dunia, orang yang hanya hidup untuk dirinya sendiri, mendustai hari pembalasan, tidak melakukan kebaikan, dan tidak menganjurkan kepada kebaikan. Mengenai kompetensi ini, Imam asy-Syahid menegaskannya dalam kewajiban kedua belas dan kewajiban ketiga puluh enam.

  1. Pembentukan keluarga muslim, yaitu dengan mengondisikan keluarga agar menghargai fikrahnya, menjaga etika Islam dalam setiap aktivitas kehidupan rumah tangganya, memilih istri yang baik dan menjelaskan kepadanya hak dan kewajibannya, mendidik anak-anak dan pembantunya dengan didikan yang baik, serta membimbing mereka dengan prinsip-prinsip Islam.

Semua itu merupakan kewajiban bagi setiap kader. Karenanya, berusahalah membawa keluargamu pada kondisi yang baik tersebut, yaitu setiap anggota keluarga memahami dengan baik hak dan kewajiban masing-masing, menurut ukuran yang telah ditetapkan oleh Islam.

  1. Bimbingan masyarakat, yakni dengan menyebarkan dakwah, memerangi perilaku yang kotor dan mungkar, mendukung  perilaku utama, amar ma’ruf, bersegera mengerjakan kebaikan, menggiring opini umum untuk memahami fikrah Islamiyah dan mencelup praktek kehidupan dengannya terus-menerus. Itu  semua adalah kewajiban yang harus ditunaikan oleh setiap akh sebagai pribadi, juga kewajiban bagi jama’ah sebagai institusi yang dinamis.
  2. Pembebasan tanah air dari setiap penguasa asing -non-Islam­- baik secara politik, ekonomi, maupun moral.
  3. Memperbaiki keadaan pemerintah, sehingga menjadi pemerintah Islam yang baik. Dengan begitu ia dapat memainkan perannya sebagai pelayan ummat dan pekerja yang bekerja demi kemaslahatan mereka. Pemerintah Islam adalah pemerintah yang anggo­tanya terdiri dari kaum muslimin yang menunaikan kewajiban-­kewajiban Islam, tidak berterang-terangan dengan kemaksiatan, dan konsisten menerapkan hukum-hukum serta ajaran Islam. Tidaklah mengapa menggunakan orang-orang non-Islam -jika dalam keadaan darurat- asalkan bukan untuk posisi jabatan strategis. Tidak terlalu penting mengenai bentuk dan nama jabatan itu, selama sesuai dengan kaidah umum dalam sistem undang-undang Islam, maka boleh.

Beberapa sifat yang dibutuhkan antara lain: rasa tanggung jawab, kasih sayang kepada rakyat, adil terhadap semua orang, tidak tamak terhadap kekayaan negara, dan ekonomis dalam penggunaannya.

Beberapa kewajiban yang harus ditunaikan antara lain: menjaga keamanan, menerapkan undang-undang, menyebarkan nilai-nilai ajaran, mempersiapkan kekuatan, menjaga kesehatan, melindungi keamanan umum, mengembangkan investasi dan menjaga kekayaan, mengokohkan mentalitas, serta menyebar­kan dakwah.

Beberapa haknya -tentu, jika telah ditunaikan kewajibannya­- antara lain loyalitas dan ketaatan, serta pertolongan terhadap jiwa dan hartanya.

Apabila ia mengabaikan kewajibannya, maka berhak atasnya nasihat dan bimbingan, lalu -jika tidak ada perubahan- bisa diterapkan pemecatan dan pengusiran. Tidak ada ketaatan kepada makhluq dalam bermaksiat kepada Khaliq.

  1. Usaha mempersiapkan seluruh aset negeri di dunia ini untuk kemaslahatan ummat Islam. Hal demikian itu dilakukan dengan cara membebaskan seluruh negeri, membangun kejayaannya, mendekatkan peradabannya, dan menyatukan kata-katanya, sehingga dapat mengembalikan tegaknya kekuasaan Khilafah Islamiyah yang telah hilang dan terwujudnya persatuan yang diimpi-impikan bersama.
  2. Penegakan kepemimpinan dunia dengan penyebaran da’wah Islam di seantero negeri (Ustadziyatul’Alam).

Sehingga tidak ada lagi fitnah dan agama itu hanya untuk Allah belaka.” (Al-Baqarah: 193)

Dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya.” (At-Taubah: 32)

Empat yang terakhir ini wajib ditegakkan oleh jama’ah dan oleh setiap akh sebagai anggota dalam jama’ah itu. Sungguh, betapa besarnya tanggung jawab ini dan betapa agungnya tujuan ini. Orang melihatnya sebagai khayalan, sedangkan seorang muslim   melihatnya sebagai kenyataan. Kita tidak pernah putus asa untuk meraihnya dan -bersama Allah- kita memiliki cita-cita luhur.

Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan orang tidak mengetahuinya.” (Yusuf: 21)

Imam asy-Syahid menyatakan bahwa jalan ini adalah jalan yang panjang dan melelahkan. Akan tetapi, tidak ada pilihan lain kecuali menempuhnya. Beliau mengutip kesimpulan tersebut dari shirah Rasulullah saw.

Perlu diketahui bahwa yang dimaksud dengan masyarakat muslim bukanlah berarti kita berupaya untuk menjadikan seluruh masyarakat dunia sebagai kader Ikhwan. Akan tetapi, kita harus membentuk opini umum yang Islami dan dapat meyakinkan masyarakat tentang keharusan berhukum dengan hukum yang diturunkan Allah swt., serta keharusan bagi setiap anggota masyarakat untuk komitmen dengan tuntutan Islam, dalam sisi aqidah, ibadah, dan mu’amalah.

Tidak ada yang sanggup untuk memikul beban da’wah ini kecuali kader pilihan yang terdiri dari ikhwati ‘amaliyyin. Dari sini, adalah bagaimana setiap kader bisa beraktivitas sesuai dengan kompetensi yang dimilikinya seoptimal mungkin. Layaknya sebuah bengunan, da’wah terdiri dari berbagai macam komponen yang akan membangunnya. Maka, ada pembagian peran dan pemetaan kerja. Hal ini juga tidak berarti seorang kader harus meninggalkan aktivitas yang lainnya. Justru, seorang al-Akh harus bisa memberikan proporsi yang tepat untuk kerja mencari penghasilan, tugas keluarga, ataupun tugas-tugas lainnya sebagai pelajar dan mahasiswa. Karena pada hakikatnya, setiap amal tersebut, bagi seorang al-Akh merupakan bagian dari ibadah dan ketaatannya sebagai seorang hamba sekaligus bernilai da’wah di sisi Allah swt.

Pembahasan ini harus merasuk ke dalam relung-relung jiwa. Pembahasan ini menjelaskan amal di medan da’wah dan urgensinya, serta ingin meluruskan tolok ukur agar menjadi Rabbani, bukan hanya materi duniawi. Maka, marilah bersama-sama menyambut seruan ini,

Hai orang-orang yang beriman, maukah engkau Kutunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? Berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik jika kamu mengetahui. (QS. Ash-Shaff: 10-11)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Wallahu a’lam

“al-Haqq min Rabbikum wa la takunanna minal mumtarin…”

Maraji’

 

Al-Quran

As-Sunnah

Imam asy-Syahid Hasan al-Banna, Majmu’atu Rasail

Ibnu al-Qayyim al-Jauwziyah, Madarijus-Salikin

Muhammad Abdullah Khatib dan Muhammad Abdul Halim Hamid, Syarah Risalah Ta’alim

Sa’id Hawwa, Jundullah: Akhlaqan wa Tsaqafatan

Sa’id Hawwa, Membina Angkatan Mujahid

Iklan

About brasanda

Ceritakan segala sesuatu tentang Khalid, aku pasti tertarik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: