Arsip | A Moment To Remember RSS for this section

Testimoni untuk Do’a

Pada suatu kesempatan acara kantor, camp di gunung Salak. peserta diminta untuk memilih orang yang menginspirasinya dengan menuliskan surat padanya. Dan saya tertitipi surat-surat ini :

Anonymous : “Bang Firman adalah sosok orang dewasa , Saya banyak belajar dari Bang Firman (Meski bang Firman ga sadar) hehe”

Anonymous : “Cara memandang suatu masalah dan memaknai menjadi suatu keputusan dan kenikmatan yang luar biasa”

Anonymous : “Man, thank you man, gw tau lu emang sangat berpengalaman banget. Sharing sama luw emang ngena banget, kerenn. Thank you Man.”

Anonymous : “Terima kasih Firman, karena kamu juga salah satu teman yang sangat menginspirasi. Tidak hanya dari tutur kata, namun juga kebaikan, keramahan, dan bagaimana cara kamu dalam masuk pada obrolan yang terkadang saling bersitegang. Thanks ya !”

Anonymous : “Terima kasih karena sudah menjadi teman bercerita dan menuangkan unek-unek di hati, sukses untuk Pak Firman”

Anonymous : “Pengen banget bisa kayak lo, pinter dalam presentasi, kritis dalam menghadapi masalah, Keren !”

Anonymous : “Berkat Anda saya sadar bagaimana cara berkomunikasi dengan orang lain, wawasan anda luas sekali”

Anonymous : “Halo mas Fir, makasih banget sharing dan semangatnya selama ini. Sesi sharing dalam perjalanan kita..makasih banyak ya mas Fir. Good luck and keep inspiring”

Anonymous : “Mas Firman ini selalu menganalogikan sesuatu dengan sangat baik, sehingga mudah dipahami dan membuat kami terpukau”

Anonymous : “Mas, Mas Fir itu inspirator angkatan kita”

Anonymous : “Pak, kalau saya sudah ditempatkan di medan, gak papa ya saya hubungi Bapak, kalau saya punya masalah dan saya minta nasehat gimana nyeleseinnya dari Bapak”

 

Ada beberapa lagi setelahnya yang menyampaikan dengan lisan.  Sungguh ini do’a, dan pengingat, untuk saya pribadi. Terima kasih rekan-rekan.

Iklan

Foto After Wedding

Royal Hotel, Bogor

Royal Hotel, Bogor

Biar sendiri, yang ditengah tetap bahagia, ngeliat para bradernya Baca Lanjutannya…

“Life is all about balance. Because I only have one leg, I understand very well.”

“Pada acara training kemahasiswaan, terdapat satu peserta dengan kaki sebelah, berdiri tegak dengan dibantu tongkatnya. Bersama dengan 50 peserta lainnya ia mengikuti semua instruksi yg saya berikan. Pada saat itu saya tdk mengistimewakannya, tidak juga menyanjungnya”.

“Karena yakin, tanpa sanjungan pun. hatinya sudah kuat sekuat lengan menahan berat tubuh pd tongkatnya. Semangat nya sudah besar, sebesar semangat mengikuti camp pelatihan tersebut. tidak ada air mata yg mengalir, tidak perlu haru yang hadir, karena orang hebat tidak lahir dalam kondisi untuk dikasihani, jiwanya terlalu mahal untuk diberi iba”.

“Sampai saat itu semua membulat menjadi kebanggan, keyakinan dan keikhlasan. Tercermin dalam kehadirannya, Beginilah saat-saat pembicara ditampar peserta training”.

#SakitMembekas #AllahPerlihatkan

“Life is all about balance. Because I only have one leg, I understand very well.”
– Sandy Fussell-

Lia “hidup tanpa Jam dan arah”

Memulai  Jum’at ini dengan meeting yang penuh target. disore hari ada kawan yang ingin menceritakan tentang anak didiknya. Anak tersebut bernama Lia.berawal dari keluhan para guru yang menceritakan tentang buruknya perkembangan intelektual dan kemampuan sosial Lia di kelas. Sampai kelas 6, Lia tidak pernah bergaul dengan teman-temannya, dalam perolehan nilai ujian juga sangat buruk, tidak jarang  nilai 0 yang Lia dapat. lebih menyedihkan adalah ketika Lia ternyata tidak dapat membaca waktu/Jam. Baca Lanjutannya…

Bukan panggilan dompet

Pelajaran hri ini dr kawan.

sudah kerja apa belum
mampu/sulit.
lapang/sempit.
Bantu manusia itu panggilan jiwa. bukan panggilan dompet.

( hari ini seorang sahabat, anak dari seorang ayah,  pelawak, motivator, Om Pepeng Soebardi Jari-jari datang menjenguk kk dirumah, dan dia menitipkan sesuatu yang membuat sy terenyuh, yang saya yakin dia pun sdg membutuhkannya, bahkan untuk ayahnya)

duhai Allah, muliakan keluarganya. Hamba memohon.
ia telah mentarbiyah kami untuk terus berbagi dalam keadaan apapun.
tak heran ayahnya terus menginspirasi dari tempat tidurnya.

Menghitung Pengeluaran Untuk KKN [ part 1]

Karena Allah Bukan Lembaga sosial, karena selain maha Pemurah Allah juga akan tetap melihat kontribusi dan tadhiyah kita, karena syurga itu tidak gratis kawan.

Teringat kembali KKN dua tahun lalu dengan adegan rasa campur aduknya. Perjalanan waktu menitipkan kemantapan pandangan pembelanya. Diawali saat mendapat teman kelompok KKN,  pikiran saya mencoba menerka-nerka peran apa yang akan ditemui di panggung panjang selama sebulan itu, bahkan mulai menyiapkan buku-buku psikologi dan pembangkit ruhiyah untuk mencoba menerapkan peran yang tepat dan sesuai untuk memasuki dunia peran teman diatas panggung nanti,  agar irama adegan tetap terjaga. Saat itu teman meledek dengan kalimat singkatnya “Ciee mentang-mentang jadi kordes, langsung baca-baca buku gituan”..

Sebelumnya pun sudah banyak euforia menatap KKN yang segera kunjung menghampiri, banyak kawan yang sudah siap berangkat “perang” dan subsidi dua kali lipat dari bulanan biasanya. Euforia begitu terasa saat teman-teman mencoba menceritakan asumsi masing-masing mengenai kehebohan KKN  yang akan terjadi melalui cerita yang disampaikan para senior di fakultasnya masing-masing. Mulai dari sulitnya listrik, air bersih, tempat yang kebangetan jauh, dan sinyal HP yang bisa didapat di daerah tertentu, bahkan cerita horror yang menjadi bumbu euforia KKN-ers nanti, dengan hebohnya cerita penculikan para gadis muda, mutilasi mayat dll.

Tidak berhenti sampai disitu, beberapa kawan satu kelompok sudah memulai candaannya dengan ide nakalnya seperti mengkategorikan temen sekelompok yang cantik-cantik, kemayu, pendiam atau solehah. Dan membaginya sesuai dengan jumlah dan karakteristik para bujang di kelompok ini. Ide gila terus meluncur, sudah terlihat niat-niat unik dengan sedikit keliaran terungkap dari jambang-jambang panjang para lelaki bujang di kelompok ini. Ada yang berharap disana sering-sering mati lampu agar terus menyatu dalam kegelapan bersama kumpulan wanita lugu yang ketakutan, juga ada yang berharap disana nantinya jadi tukang ojek setia para wanita ayu kelompok ini, ada yang berharap anaknya ak Kades mempunyai kriteria bidadari yang turun dari langit walaupun  harapan itu musnah saat tau bawha anak Pak Kades adalah seorang laki-laki tulen dengan jambang yang mengambang dan menjadi pemilik rumah kontrakan kami kelak.

BISMILLAH…

Sedikit ingin berbagi, Insya Allah hikmah, karena hikmah adalah harta milik kaum mukmin…KKN menurut sy pribadi adalah bentuk kecil dari upaya penyaluran dari pentasbihan sebagai Maha-Siswa dengan segala kelebihan yang kita miliki. Mahasiswa mulai diliat sebagai menara gading, dan itu bukanlah kondisi yang ingin kita tuju. Bahkan tanpa sadar bisa-bisa kita terlalu disibukkan dengan kekhawatiran fisik dan lingkungan yang minimalis.

Saat saya menulis ini sebenarnya adalah karena rasa kecintaan saya kepada sahabat-sahabat yang nantinya benar-benar akan merasakan langsung kerumitan cerita lelah dan indah di KKN nanti. Yaa..semua ini berasal dari sebuah ikatan iman dan ukhuwah untuk saling menguatkan dan menyadarkan peran apa yang bisa kita ambil di dalam pertunjukkan besar tersebut.

Sahabat-ku yang Allah cintai, Mulai saat ini mari kita menghitung-hitung pengeluaran untuk KKN kita, seberapa besar tenaga, strategi  dan upaya yang nantinya kita akan salurkan di kerja-kerja kelompok kita. Seberapa besar pengaruh dan daya tahan saat kita mengeluarkan energi untuk menahan godaan-godaan dengan segala bentuk kenikmatannya.

Ini adalah sedikit perbekalan yang saya tawarkan dan mungkin bisa membantu sahabat-sahabat KKN-ers kelak di panggung besar itu. Baca Lanjutannya…

Menghitung Pengeluaran Untuk KKN [ part 2 ]

3. “Meluruskan Paradigma bahwa KKN adalah “bukan” liburan satu bulan penuh” sehingga tidak sedikit sahabat yang enggan untuk mengaitkan agenda-agenda tarbawi dalam aktivitas KKN nya. Sungguh sahabat, menurut saya pribadi, masa-masa KKN adalah masa akan ruhiyah dan kesadaran sebagai da’i butuh untuk semakin diperkuat. Bagaimana tidak?, aktivitas dalam KKN yang cenderung luang dan intens bekerjasama dengan kawan kelompok kita dengan agenda yang kadangkala tidak menentu, cukup mengambil porsi agenda pribadi yang biasanya sudah sangat teratur saat waktu perkuliahan biasa. Di periode KKN, tidak akan ada yang melarang kawan-kawan bangun siang, tidur seharian, tebak-tebakan denga kawan, atau sekedar main catur sambil makan kacang dan menonton TV sampai iklan-iklannya pun ditonton. Semua itu berperan andil dalam pengalihan waktu efektif kita dan bahkwan mungkin sedikit banyak mempengaruhi kebiasaan kita. Oleh karena itu sahabat sangat butuh Liqo pengganti dan juga tetap berkomunikasi dengan sesama aktivis dakwah selama di desa atau satu kecamatan.

• Banyak hal yang saya dapatkan begitu lucunya seorang dari kita yang sangat berniat untuk mengganti nomor HP nya Baca Lanjutannya…